Rabu, 30 April 2008
di
02.26
|
Apa yang aku lihat dan dan aku ketahui tentang kondisi perempuan saat ini nyaris seperti sebuah chaos baru yang sulit dipahami. Perempuan sejak mendapatkan kebebasan dan hak-hak persamaannya telah berkembang pesat menjelajahi tatanan kehidupan sosial amat luas. Tapi apakah itu kebenarannya?? Benarkah perempuan harus disamakan dengan laki-laki dalam segala hal?
Nowadays, perempuan ikut di medan perang, olahraga angkat besi, tinju professional, manajer, menteri bahkan presiden. Semua yang dahulunya hanya bisa dimiliki oleh laki-laki kini bisa didapatkan oleh perempuan.
Inilah emansipasi.
Right now, perempuan bebas memakai pakaian seperti laki-laki, bergaul dan bertingkah seperti laki-laki, bahkan bersikap ga karuan untuk memancing laki-laki. Tidak jarang perempuan Indonesia meniru gaya hidup, pergaulan dan pemikiran dari luar negeri yang jelas-jelas mempertuhan kebebasan. Bagi mereka toleransi adalah mengikuti saja apa yang dilakukan orang lain tanpa peduli itu sesuai dengan nilai-nilai luhur bangsa dan agama atau tidak. Tidak jarang malah, tanpa disadari mereka terseret dalam arus budaya toleransi yang secara halus merobah karakter perempuan bangsa ini selama persentuhannya dengan budaya luar. Jadilah bergaul bebas, berpikiran bebas, dan selalu ingin bebas dari segala aturan yang seharusnya menjadi benteng pemisah dimana hak-hak dan kehormatan perempuan sebenarnya terjaga dan terhormat.
lalu inikah emansipasi?
Sisi yang dianggap modern oleh masayarakat post-metroplitan tentang kehidupan perempuan saat ini bagiku merupakan sebuah kata : heran.
Lalu aku melihat dalam lingkungan yang jauh tersembunyi dari hingar-bingar kemodernan pemikiran, terkurung dalam pagar-pagar budaya leluhur yang tetap dijunjung tinggi demi sebuah nama baik keluarga, agar tak diperbincangkan kaum kerabat, kaum perempuannya berjuang keras setiap hari demi kelangsungan hidup keluarganya. Bukan karena tidak ada kepala keluarga, seorang laki-laki yang seharusnya bertanggung jawab secara penuh terhadap anak dan istrinya.
Laki-laki, kepala keluarga adalah penanggung jawab: nafkah lahir untuk anak dan istrinya, pendidikan formal dan agama yang layak untuk anak-anaknya, mengasuh, membesarkan, memberi makan, mangayomi istri, bahkan sebenarnya menyelenggarakan segenap pekerjaan rumah seperti mencuci dan memasak. Setahuku, begitulah perintah untuk kepala keluarga dalam agama islam. Tapi aku hampir-hampir tidak pernah melihat itu dalam keluarga yang hidup di tengah-tengah adat basandi syara’-syara’ basandi kitabullah ini.
Yang ada malah wanita jadi kepala keluarga. Bangun subuh hari, segera kemesjid untuk shalat berjamaah, bergegas pulang untuk menyiapkan makanan dan secangkir kopi untuk suaminya, sementara si laki-laki masih bermimpi tentang angka yang akan di pasangnya untuk taruhan siang ini. Sejenak setelah anak-anknya berangkat ke sekolah, si perempuan berangkat ke sawah tempat dia akan bekerja seharian dibawah terik matahari sementara suami masih melanjutkan mimpin-mimpinya di warung bersama teman-teman sepermainan dominonya. Siang hari, saat istirahat zuhur, si perempuan pulang untuk menyediakan makan siang bagi suami. Tak jarang makian, amarah sampai perlakuan kasar diterimnya ketika dia terlambat menyediakan makanan atau untuk alasan-alasan remeh yang sebenarnya menjadi tanggung jawab laki-laki. Sore harus mencuci, malam mendidik dan mengawasi kehidupan sekolah anak-anak.
Ternyata sisi yang di anggap kuno dan tertinggal oleh sebagian orang, ada pejuang-pejuang kehidupan yang tangguh, yang sanngup menyelesaikan tugas-tugas yang semestinya menjadi tanggung jawab manusia-manusia yang lebih “perkasa” bernama laki-laki. Di tempat itulah aku melihat wanita dengan mengucapkan satu kata: kagum.
Selamat hari kartini
Nowadays, perempuan ikut di medan perang, olahraga angkat besi, tinju professional, manajer, menteri bahkan presiden. Semua yang dahulunya hanya bisa dimiliki oleh laki-laki kini bisa didapatkan oleh perempuan.
Inilah emansipasi.
Right now, perempuan bebas memakai pakaian seperti laki-laki, bergaul dan bertingkah seperti laki-laki, bahkan bersikap ga karuan untuk memancing laki-laki. Tidak jarang perempuan Indonesia meniru gaya hidup, pergaulan dan pemikiran dari luar negeri yang jelas-jelas mempertuhan kebebasan. Bagi mereka toleransi adalah mengikuti saja apa yang dilakukan orang lain tanpa peduli itu sesuai dengan nilai-nilai luhur bangsa dan agama atau tidak. Tidak jarang malah, tanpa disadari mereka terseret dalam arus budaya toleransi yang secara halus merobah karakter perempuan bangsa ini selama persentuhannya dengan budaya luar. Jadilah bergaul bebas, berpikiran bebas, dan selalu ingin bebas dari segala aturan yang seharusnya menjadi benteng pemisah dimana hak-hak dan kehormatan perempuan sebenarnya terjaga dan terhormat.
lalu inikah emansipasi?
Sisi yang dianggap modern oleh masayarakat post-metroplitan tentang kehidupan perempuan saat ini bagiku merupakan sebuah kata : heran.
Lalu aku melihat dalam lingkungan yang jauh tersembunyi dari hingar-bingar kemodernan pemikiran, terkurung dalam pagar-pagar budaya leluhur yang tetap dijunjung tinggi demi sebuah nama baik keluarga, agar tak diperbincangkan kaum kerabat, kaum perempuannya berjuang keras setiap hari demi kelangsungan hidup keluarganya. Bukan karena tidak ada kepala keluarga, seorang laki-laki yang seharusnya bertanggung jawab secara penuh terhadap anak dan istrinya.
Laki-laki, kepala keluarga adalah penanggung jawab: nafkah lahir untuk anak dan istrinya, pendidikan formal dan agama yang layak untuk anak-anaknya, mengasuh, membesarkan, memberi makan, mangayomi istri, bahkan sebenarnya menyelenggarakan segenap pekerjaan rumah seperti mencuci dan memasak. Setahuku, begitulah perintah untuk kepala keluarga dalam agama islam. Tapi aku hampir-hampir tidak pernah melihat itu dalam keluarga yang hidup di tengah-tengah adat basandi syara’-syara’ basandi kitabullah ini.
Yang ada malah wanita jadi kepala keluarga. Bangun subuh hari, segera kemesjid untuk shalat berjamaah, bergegas pulang untuk menyiapkan makanan dan secangkir kopi untuk suaminya, sementara si laki-laki masih bermimpi tentang angka yang akan di pasangnya untuk taruhan siang ini. Sejenak setelah anak-anknya berangkat ke sekolah, si perempuan berangkat ke sawah tempat dia akan bekerja seharian dibawah terik matahari sementara suami masih melanjutkan mimpin-mimpinya di warung bersama teman-teman sepermainan dominonya. Siang hari, saat istirahat zuhur, si perempuan pulang untuk menyediakan makan siang bagi suami. Tak jarang makian, amarah sampai perlakuan kasar diterimnya ketika dia terlambat menyediakan makanan atau untuk alasan-alasan remeh yang sebenarnya menjadi tanggung jawab laki-laki. Sore harus mencuci, malam mendidik dan mengawasi kehidupan sekolah anak-anak.
Ternyata sisi yang di anggap kuno dan tertinggal oleh sebagian orang, ada pejuang-pejuang kehidupan yang tangguh, yang sanngup menyelesaikan tugas-tugas yang semestinya menjadi tanggung jawab manusia-manusia yang lebih “perkasa” bernama laki-laki. Di tempat itulah aku melihat wanita dengan mengucapkan satu kata: kagum.
Selamat hari kartini
Diposting oleh
vikoladelta


0 komentar:
Posting Komentar