Apa yang aku lihat dan dan aku ketahui tentang kondisi perempuan saat ini nyaris seperti sebuah chaos baru yang sulit dipahami. Perempuan sejak mendapatkan kebebasan dan hak-hak persamaannya telah berkembang pesat menjelajahi tatanan kehidupan sosial amat luas. Tapi apakah itu kebenarannya?? Benarkah perempuan harus disamakan dengan laki-laki dalam segala hal?

Nowadays, perempuan ikut di medan perang, olahraga angkat besi, tinju professional, manajer, menteri bahkan presiden. Semua yang dahulunya hanya bisa dimiliki oleh laki-laki kini bisa didapatkan oleh perempuan.
Inilah emansipasi.

Right now, perempuan bebas memakai pakaian seperti laki-laki, bergaul dan bertingkah seperti laki-laki, bahkan bersikap ga karuan untuk memancing laki-laki. Tidak jarang perempuan Indonesia meniru gaya hidup, pergaulan dan pemikiran dari luar negeri yang jelas-jelas mempertuhan kebebasan. Bagi mereka toleransi adalah mengikuti saja apa yang dilakukan orang lain tanpa peduli itu sesuai dengan nilai-nilai luhur bangsa dan agama atau tidak. Tidak jarang malah, tanpa disadari mereka terseret dalam arus budaya toleransi yang secara halus merobah karakter perempuan bangsa ini selama persentuhannya dengan budaya luar. Jadilah bergaul bebas, berpikiran bebas, dan selalu ingin bebas dari segala aturan yang seharusnya menjadi benteng pemisah dimana hak-hak dan kehormatan perempuan sebenarnya terjaga dan terhormat.

lalu inikah emansipasi?

Sisi yang dianggap modern oleh masayarakat post-metroplitan tentang kehidupan perempuan saat ini bagiku merupakan sebuah kata : heran.

Lalu aku melihat dalam lingkungan yang jauh tersembunyi dari hingar-bingar kemodernan pemikiran, terkurung dalam pagar-pagar budaya leluhur yang tetap dijunjung tinggi demi sebuah nama baik keluarga, agar tak diperbincangkan kaum kerabat, kaum perempuannya berjuang keras setiap hari demi kelangsungan hidup keluarganya. Bukan karena tidak ada kepala keluarga, seorang laki-laki yang seharusnya bertanggung jawab secara penuh terhadap anak dan istrinya.

Laki-laki, kepala keluarga adalah penanggung jawab: nafkah lahir untuk anak dan istrinya, pendidikan formal dan agama yang layak untuk anak-anaknya, mengasuh, membesarkan, memberi makan, mangayomi istri, bahkan sebenarnya menyelenggarakan segenap pekerjaan rumah seperti mencuci dan memasak. Setahuku, begitulah perintah untuk kepala keluarga dalam agama islam. Tapi aku hampir-hampir tidak pernah melihat itu dalam keluarga yang hidup di tengah-tengah adat basandi syara’-syara’ basandi kitabullah ini.

Yang ada malah wanita jadi kepala keluarga. Bangun subuh hari, segera kemesjid untuk shalat berjamaah, bergegas pulang untuk menyiapkan makanan dan secangkir kopi untuk suaminya, sementara si laki-laki masih bermimpi tentang angka yang akan di pasangnya untuk taruhan siang ini. Sejenak setelah anak-anknya berangkat ke sekolah, si perempuan berangkat ke sawah tempat dia akan bekerja seharian dibawah terik matahari sementara suami masih melanjutkan mimpin-mimpinya di warung bersama teman-teman sepermainan dominonya. Siang hari, saat istirahat zuhur, si perempuan pulang untuk menyediakan makan siang bagi suami. Tak jarang makian, amarah sampai perlakuan kasar diterimnya ketika dia terlambat menyediakan makanan atau untuk alasan-alasan remeh yang sebenarnya menjadi tanggung jawab laki-laki. Sore harus mencuci, malam mendidik dan mengawasi kehidupan sekolah anak-anak.

Ternyata sisi yang di anggap kuno dan tertinggal oleh sebagian orang, ada pejuang-pejuang kehidupan yang tangguh, yang sanngup menyelesaikan tugas-tugas yang semestinya menjadi tanggung jawab manusia-manusia yang lebih “perkasa” bernama laki-laki. Di tempat itulah aku melihat wanita dengan mengucapkan satu kata: kagum.
Selamat hari kartini
Diposting oleh vikoladelta

Yah…. Sialan, hujan lagi!!!

Kata-kata ini mungkin sering kita dengar, atau bahkan kita sendiri yang mengucapkannya dikala hujan mulai turun dan menjebak anda yang sedang dalam perjalanan, menghambat aktivitas yang telah anda rencanakan secara matang (kayak goreng ubi mama).

Anda, saya, dan kita semua dengan mudahnya mengeluarkan umpatan, keluhan, erangan dan berbagai kata-kata masam lainnya (kebanyakan adalah nama-nama penghuni kebun binatang) ketika terjebak dalam derasnya hujan. Bahkan tak jarang diantara kita menunjukan reaksi yang berlebihan ; menendang bangku, memukul pintu,melempar duit sampai menggigit kaos kaki (???????^,^) .yaaaahhh pokoknya cem-macem lah.

Nah…., pada kesempatan yang singkat ini khatib mengajak hadirin yang berbahagia untuk merenung sejenak (woiii bukan bengong).

Mari kita buka pikiran kita lebih luas. Lihat dan rasakanlah dengan kebeningan hati, dalam nuansa imajinasi yang penuh realitas (aaaaa maksud nyo ko??).

Pernahkah kita berfikir berapa manfaat yang kita dapatkan dari hujan yang baru saja usai ini. Nun jauh disana para petani bergembira mendapat limpahan rahmat dari langit, hujan telah memberi energi baru pada semangat mereka untuk memulai bercocok tanam kembali. Bersegera mananam padi di sawah, mengisi ladang dengan berbagai palawija, sayuran, buah-buahan. Dalam pikiran mereka terbayang padi yang berbulir kuning, padat, yang batangnya merunduk rendah saking lebatnya buah yang mengisi tiap tangkai. Sementara di ladang para ninik mamak beserta kemenakannya menaruh harapan akan tumbuhnya sayuran yang hijau mengkilat diterpa sinar matahari, buah cabe yang merah merona (ihhh jadi malu.. katanya) , tomat yang gemuk lagi menggemukkan serta aneka makhluk berklorofil lainnya yang bermanfaat bagi para pengeluh dan pengumpat seperti manusia.

Semua hasil panen itu nantinya dikumpulkan dan didistrubusikan secara massal ke kota-kota. Ke tempat di mana anda, saya dan kita semua yang mengeluh tadi, pasokan beras dan sayur-mayurnya bergantung pada kerja keras para petani karena kita memang tidak punya lahan cukup luas untuk menanam semua itu (juga tidak punya ketrampilan dan kemauan keras seperti mereka).

Hasil panen itulah yang mencukupi kebutuhan karbohidrat kita, mencukupi asupan vitamin untuk sel-sel kita juga menjaga kelangsungan hidup komunitas vegetarian di sekitar kita. Darinya kita mendapatkan energi dan dampak kesehatan yang semakin mahal harganya. Energi dan kesehatan tersebutlah yang kita gunakan kembali untuk beraktivitas, bekerja, mencari uang untuk membeli nasi dan sayuran yang akan dimakan selanjutnya. Energi, kesehatan, dan klorofil itu lah yang juga kita gunakan untuk melangkah, berlari dan berteduh dikala hujan yang berusan tercurah. YAAAAAA, JUGA ENERGI DAN KESEHATAN ITULAH YANG KITA GUNAKAN UNTUK MENYUMPAH SERAPAH PADA HUJAN (YANG PADA HAKIKATNYA KITA MENGUMPAT PADA ALLAH`SWT YANG MENCIPTAKAN HUJAN) .

Kalau begitu kapan kita akan bersyukur?????????????????

Diposting oleh vikoladelta

Alhamdulillahi rabbil’alamin
, hari ini kami telah sukses mengadakan acara silaturahmi antara alumni, dosen dan mahasiswa laboratorium kimia material Universitas Andalas. Kegiatan ini diikuti oleh hampir seluruh alumni generasi keempat dan mahasiswa generasi keenam sejak Dr.Syukri Arief,M.ENG, advisor kami, menjadi kepala laboratorium kimia material. Ikut hadir pada kesempatan tersebut, beberapa alumni yang sudah bekerja baik di perusahaan maupun di lembaga pendidikan.

Pak Syuk, panggilan kami untuk pak Syukri Arief, terlihat sangat senang. Beliau bersyukur karena kami akhirnya berhasil mengangkatkan acara yang sudah lama beliau cita-citakan. Yah.., beliau memang memandang silaturahmi sangat penting dan mengupayakan semua members laboratorium kimia material kompak layaknya sebuah keluarga besar yang harmonis. Ini pastilah memberi atmosfer positif bagi peneliti yang sedang dan akan memasuki labor. Ada kenyamanan, kedekatan, saling percaya sampai kepada ikatan kuat yang tetap terjalin meski kami sudah terpisah-pisah nantinya.

Aha..!!! satu hal lagi yang menjadi alasan kuat, tentunya keinginan beliau untuk melestarikan tradisi labornya sewaktu di Gifu University dulu. Di sana, ada acara refreshing rutin anggota labor 2 kali setahun. Pertama, penyambutan anggota baru yang sifatnya agak formal walaupun acaranya di taman labor lengkap dengan barbekyunya. Kedua, perpisahan dengan member yang telah menyelesaikan studinya di Labor tersebut. Acara yang terakhir ini bersifat sangat informal, tapi menghabiskan biaya sangat besar karena dilakukan di tempat wisata, seringkali berhari-hari di luar kota. Saking besarnya biaya yang dikeluarkan, konon kabarnya anggaran tersebut cukup untuk biaya perjalan beliau pulang-pergi ke Indonesia
. Menurutku, apapun bentuk acaranya, yang penting harus mampu menyentuh esensi utama yaitu silaturahmi yang erat, seerat hubungan keluarga.

Hmmmmm….., setelah acara berlangsung siang tadi, terasa ada kerinduan untuk mengulanginya lagi.

Mengejutkan buatku, apalagi bagi bapak tentunya. Entah bagaimana kami mampu menyelenggarakan acara tersebut. Padahal, waktu dua minggu yang diberikan untuk melakukan persiapan telah hampir habis. Namun, masih belum ada kesepakatan antara kami sendiri dimana lokasi yang tepat untuk acara tersebut. Alhamdulillah, ada saja jalan jika niatnya baik. Tanpa sengaja, aku dan da deki menemukan tempat yang teramat sangat bagus, mudah dijangkau dari pusat kota serta aman. Setelah mendapat persetujuan dari Pak Syuk, aku bertekad untuk membalikan keadaan. Acara ini harus jadi walaupun persiapan hanya tiga hari lagi. Menurutku kita sudah punya kuncinya, persetujuan bapak. Sekali lagi lagi aku takjub melihat spirit luar biasa rekan-rekan di lab. Mereka yang kelihatannya malas-malasan, sekarang malah menampilkan semangat dalam bekerjasama untuk kesuksesan acara kami
.

Dan……………………………, Blingggggggggggggggggggggggg!!!!!!!!!

Jadilah acara ini sukses besar sampai kepada esensi utamanya.

Finally we would like to thank:

All alumnus who has been participated on the 1st annual meeting and silaturahmi of material chemistry laboratory members.

Wish all the best for you
.

Diposting oleh vikoladelta
Visit the Site
MARVEL and SPIDER-MAN: TM & 2007 Marvel Characters, Inc. Motion Picture © 2007 Columbia Pictures Industries, Inc. All Rights Reserved. 2007 Sony Pictures Digital Inc. All rights reserved. blogger template by blog forum